Detik-Detik Menjelang Kematian HMI
Didirikan pada 5 Februari 1947, HMI bukan organisasi yang dapat dikatakan muda lagi. Kiprahnya dalam mewarnai kehidupan umat dan bangsa telah membuktikan organisasi ini cukup berguna bagi Indonesia. Minimal, ada jasa yang diberikan pada tanah airnya.
Kader yang progresif, militan, tahan pukul, jago bersilat lidah dan konsumen setia penjual buku. Ya, anggota HMI dikenal sebagai sekumpulan anak-anak muda yang terorganisir rapi, membentuk pribadi yang siap kapan pun turun ke jalan menyongsong perubahan. Tidak hanya menyongsong perubahan, menggotong nasi bungkus pun siap.
Manusia tetaplah manusia. Setiap detik, ide, kemauan dan komitmen selalu berubah seiring berjalannya waktu. Tradisi idealisme, kajian, diskusi, bakti sosial, rela mati demi kebenaran dan membicarakan ide-ide besar perubahan, tidak lagi menjadi kultur mutlak. Kader HMI juga Manusia, punya khilaf dan lalai.
Kalau anak muda diluar sana asyik pacaran dan suap-suapan mesra di restoran, kenapa kader HMI mesti diskusi sepanjang malam sampai pagi? Toh sekeras apa pun mereka berpikir, Negeri ini tetap dirusak oleh Pejabat yang kebal hukum. Sekencang apapun mereka mengkritik rezim, tidak ada gunanya bila media telah bersekutu dengan Penguasa. Demo hanya sekadar gonggongan hampa, tidak ada yang memberitakan.
Kalau Pemuda lain sibuk main game di ponsel, kenapa kader HMI mesti tidak tidur sepanjang malam demi mendengarkan seniornya mengulas filsafat? Toh sedalam apapun analisa mereka, Bangsanya tetap carut-marut dipermainkan Politisi kotor haus uang. Kalau kehidupan tidak bisa diselamatkan dari kehancuran, kenapa sekelompok kecil orang mesti berkorban dan sok jadi Pahlawan?
Tiap tahun, ada puluhan ribu mahasiswa mengikuti Latihan Kader I. Ada yang ikut karena ingin tahu, terculik, terkelabuhi, ikut-ikutan dan beberapa lagi ada yang ikut secara sadar. Entah sadar karena nama HMI laku untuk dicantumkan di daftar riwayat hidup kelak ketika melamar kerja, atau benar-benar ingin berproses di HMI.
Berjuta alasan orang masuk HMI, beribu omong basi gabung di Himpunan, semua menjadi omong kosong bila tidak berkontribusi bagi keberlangsungan HMI. Mereka kebanyakan mencari nama dan hidup dari organisasi, lalu melupakan tanpa mau peduli pada rahim yang membesarkan namanya. Organisasi diperlakukan bak pelacur, setelah dinikmati dan diambil manfaatnya, dicampakkan begitu saja.
Kader HMI dikenal militan, berani mati demi membela ideologi. Pada tahun 1948, PKI di gunung-gunung Madiun pun dilabrak kader HMI. Tapi semuanya berubah, tatkala HMI bersama Orde Baru keluar sebagai pemenang dalam percaturan politik Bangsa. Jasa HMI, dihargai oleh Soeharto dengan koneksi dan kekuasaan, lalu penyakit ketergantungan pada rezim membuat HMI tidak nyaring lagi.
Sejak Orde Baru, HMI menjadi organisasi klan kekuasaan. Segala hal dalam HMI, selalu tidak pernah lepas dengan yang namanya politik dan jabatan. Bahkan perebutan Ketua Komisariat yang notabene berada ditingkatan Fakultas atau Universitas, seringkali diwarnai intrik, culik-menculik, jebak-menjebak, hingga manuver-manuver mengesankan laiknya ‘’Politisi Senayan’’.
HMI dalam pasal IV Anggaran Dasar mempunyai tujuan, ‘’Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah subhanahu wata’ala’’. Indah betul tujuan HMI, meski hanya diatas kertas. Tujuan mulia tidak ada harga kalau tidak benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan nyata.
Di atas kertas, banyak sekali mahasiswa baru masuk HMI. Akan tetapi, dari 70 orang yang bergabung di Himpunan dalam setiap kali pelatihan, mungkin hanya ada 10 orang yang akhirnya benar-benar mau aktif dan mengabdi. Sisanya, hilang entah kemana. Ada yang tenggelam ke dalam rutinitas sebelumnya. Ada yang sibuk pada dunia tongkrongan, dan beberapa tidak jelas menghabiskan hidupnya untuk apa.
Pendiri HMI baru-baru ini dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Jokowi. Profesor Lafran Pane dalam dua minggu banyak diberitakan seluruh media Nasional. Berkat diangkat menjadi pahlawan, orang-orang makin mengenal siapa dia, apa kontribusinya dan karya apa yang diwariskan pada generasi muda Indonesia. Ya, berkat pengangkatannya, orang-orang makin tahu HMI.
HMI sering masuk pusaran pemberitaan media secara luas. Meski Alumninya dikenal banyak mengisi jabatan di pemerintahan dari struktur pejabat tinggi hingga desa-desa, nyatanya tidak berimplikasi luas pada minat mahasiswa bergabung ke organisasi ini. Jangankan berharap mahasiswa bergabung ke HMI, orang yang sudah jelas-jelas menjadi anggota saja banyak yang meninggalkan HMI.
Modernitas yang didambakan kader HMI generasi tahun 70 an, ternyata muncul dalam bentuk candu membius militansi junior-juniornya. Mahasiswa tidak lagi datang kajian, karena mementingkan main game di kosan. Kader HMI tidak lagi akrab mengunjungi masjid, karena sudah nikmat ngopi di cafe-cafe bersama seniornya untuk menerima arahan-arahan.
Setiap pengurus mencoba menggelar kajian keilmuan, tapi tidak ada yang tertarik datang. Dunia tongkrongan, pacaran, gitar-gitaran di taman atau nonton film di kontrakan, jauh lebih mengasyikkan daripada berpikir keras sampai dahi berkerut. Seperti itukah yang katanya kader umat dan Bangsa? Yang katanya bakal menggantikan estafet kepemimpinan Bangsa dikemudian hari.
Kita hari ini hidup dalam dunia dipenuhi orang-orang yang tidak tahu mana yang penting, dan mana yang remeh. Mereka kebanyakan tidak paham mana yang mesti disetiai, dan mana yang mesti ditinggalkan. Mahasiswa hari ini buta mana yang harusnya diperjuangkan mati-matian, dan mana yang harusnya dicampakkan. Kesetiaan hidupnya bertambat pada yang salah, sehingga gagal menentukan ketulusan.
Ada orang begitu setia merawat aplikasi-aplikasi game dalam ponsel, hingga temannya pun diacuhkan. Seolah persahabatan tidak ada lagi harganya didepan mereka. Bila persahabatan memudar, solidaritas pun luntur. Kalau mahasiswa kehilangan kesetiakawanan sosial, bagaimana mungkin mereka dapat terorganisir? Kalau mereka tercerai-berai, bagaimana dapat menyongsong perubahan.
Dalam elemen bangsa ini, yang mempunyai potensi besar merajut persatuan dan solidaritas, ya mahasiswa. Kalau mahasiswa gagal mengorganisir diri menjadi gerakan penekan kebijakan, maka akan muncul penguasa yang dengan mudahnya menciptakan hoaks-hoaks pembangunan, lalu diikuti maraknya pejabat menyalahgunakan kekuasaan tanpa diadili peradilan.
Dulu HMI tampil terdepan dalam menyuarakan keprihatinan masyarakat terzalimi. Kini, organisasi ini kompak bersama organisasi mahasiswa lain sama-sama diam membisu. Gairah menuntut perubahan mengendor, diikuti maraknya sodor-menyodor proposal atas nama kegiatan, padahal separuh hibahnya untuk kepentingan perut penyodor.
Dahulu banyak orang berkata, kalau HMI itu berbeda dengan organisasi mahasiswa lain. Tapi, setelah kita cermati lebih dalam secara jujur, sama saja!. Sama-sama melempem, takut lapar dan tidak lagi menjadi pelopor yang menuntut perubahan. Bila pemudanya sudah loyo seperti ini, bagaimana umat dan Bangsa dapat maju?
Seorang Pembijak berkata, ‘’sejarah selalu berulang’’ katanya. Ada kalanya suatu kelompok jaya dan berkuasa, tapi akan ada suatu masa dimana dia tenggelam dan digantikan kelompok lain. Selama 32 tahun masa orde baru, HMI menjadi pemenang. Tapi setelah ini, ke depan, bisa jadi KAMMI atau PMII yang berkuasa, lalu HMI pelan-pelan tenggelam, makin tua, rapuh dan akhirnya meninggal dunia.
Sebelum semuanya terlambat, HMI harus diberi vaksin. Campur tangan elit KAHMI dalam kongres HMI harus diakhiri. Intervensi senior dalam konfercab harus dikurangi. Pengurus yang ‘’olah-olah’’ harus dihentikan dan diganti dengan berwirausaha dalam menggalang dana. Instruktur yang mata keranjang, harus dicoret dari arena pelatihan.
Ke depan, iuran anggota untuk perbendaharaan harus berjalan. Tidak boleh ada lagi Ketua Cabang yang menjual suara untuk tiket pesawat. Mentang-mentang yang memberikan koneksi ke pejabat atau perusahaan, dana kegiatan yang diselenggarakan kader tidak boleh dipotong oleh senior. Ke depan, perkaderan harus benar-benar disterilkan dari unsur politik, asmara maupun anasir non intelektual.
Bila semua kader sudah mampu konsisten dengan formula di atas dan bebas dari nafsu politik perkaderan, semoga detik-detik kematian HMI bisa diperlama. Syukur-syukur HMI tidak jadi bubar, dan masih bisa eksis sampai anak cucu kita kelak.