SEPOTONG MIMPI DARI YERUSALEM
: buat Gal Gadot
Aku mendoakanmu diam-diam, di tepi danau yang dipenuhi tunjung biru dan bunga padma dalam sebuah taman yang teduh tapi itu bukan Getsemani, dik. Taman tempat Isa berdoa sebelum ditangkap tentara Romawi dan menggenapi risalahnya. Itulah taman di mana kita begitu khidmat berciuman untuk pertama kalinya di bawah pohon zaitun yang paling besar dan tua dan rimbun. Di bawah terang bulan yang marun. Tak ada Yudas atau tentara yang menangkap kita sampai habis malam itu. Cinta memang bukan ucapan shalom dari lidah-lidah yang bercabang atau teriakan takbir, keluar dari mulut orang-orang yang menyandang senjata dan membunuh atas nama Tuhan lalu kepadaNya mereka merasa mengabdi.
Tak seperti risalah atau rindu-dendam, cinta adalah keganjilan yang tak perlu kita genapi.
Aku mendoakanmu diam-diam, pada tiap helai kelopak padma yang seperti senyuman yang tak henti-hentinya merekah dari bibirmu, dik. Aku membawamu berjalan di pagi harinya menembus keramaian Shuk Mahane Yehuda yang sibuk. Ada tenda besar tersusun dari kayu-kayu tipis dan kain bermotif di kedua sisi, juga kain berwarna putih di atasnya. Pasar itu begitu riuh seperti dada kita. Aku menyentuh pipimu yang merah dan dipenuhi bintik seperti biji buah tin yang matang. Kau mengusap tipis dadaku, dan riuh itu redam seketika.
Aku diam, termangu tanpa doa, saat duduk dari sujud yang kedua pada rakaat terakhir salat tahajud di kamar 101 hotel butik Azzahra. Di depanku kau duduk bersimpuh. Telanjang penuh dan pasrah. Aku begitu kesulitan membaca doa tahiyat dan bukan hanya telunjukku saja yang berdiri tegang, tegak dan tepat menunjuk ke arahmu. Aku juga kesulitan membaca ayat-ayat suci yang harusnya kubaca untuk melindungi dan mengendalikan diri. Yang bisa kubaca saat itu cuma namamu:
Gal Gadot. Gal Gadot. Gelombang sungai atau pantai. Gelombang yang dengan gigih dan tulus menerjangku.
Mataku dengan khusyuk dan jeli membaca lekuk demi lekuk keajaiban di tubuhmu; membaca kesentosaan yang terhampar di tatap matamu; membaca kemunafikan diriku sendiri di engah napasku-napasmu; membaca ayat-ayat yang tidak suci yang Tuhan kirimkan padaku dengan alasan yang tak bisa kupahami.
Aku sempoyongan membacamu, dik. Di sepanjang jalan antara tahiyat dan salam pada rakaat terakhir tahajudku malam itu.
Aku mendoakanmu diam-diam, di depan Gerbang Damaskus tempat dulu Umar yang agung memasuki Kota Tua Yerusalem yang suci. Tak seperti Umar, pagi itu aku berjalan sendiri tanpa unta putih dan seorang khadam.
Kau diam, termangu tanpa doa, di depan Gerbang Zion lalu pergi dengan membawa sepotong mimpi tentang cinta yang tak pernah bisa dieja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar